Sinema Dunia
Just another WordPress.com weblog

Apr
09
Apr
09
Apr
09
Apr
09
Mar
31

CERITA

Berdasarkan definisi bahwa film adalah CERITA yang dituturkan pada penonton melalui rangkaian gambar bergerak, setelah kita memahami media yang akan kita gunakan untuk menuturkan suatu cerita, maka tentu kita harus mempunyai CERITA yang akan kita tuturkan.

A. IDE POKOK DAN TEMA

Banyak istilah dan definisi yang diajukan dalam berbagai referensi mengenai Ide Pokok dan Tema. Daripada meributkan istilah dan definisi, di sini istilah dan pemahaman mengenai Ide Pokok dan Tema dipilih semata-mata karena pertimbangan praktis bagi kepentingan penulisan skenario film.

IDE POKOK adalah satu kalimat perenungan yang ingin disampaikan pembuat film pada penontonnya. Bobot ide pokok ini akan menentukan bobot suatu film. BOBOT FILM ditentukan oleh BOBOT IDE POKOK dan CARA PENYAJIAN. BOBOT IDE POKOK ditentukan oleh KEDALAMAN PEMIKIRAN dan KELUASAN JANGKAUANNYA, artinya semakin mendalam pemikiran dan semakin luas jangkauan pemikiran (semakin universal) maka semakin berbobot ide pokoknya. Ide Pokok dirumuskan dalam SATU KALIMAT PERNYATAAN.

Setelah kita menemukan ide pokok, maka langkah selanjutnya adalah menetapkan TEMA. Tema menjawab pertanyaan, cerita ini bertutur tentang SIAPA yang BAGAIMANA? Tema dirumuskan dalam bentuk:

Tentang…………. (protagonis), yang……….. (action).

Berdasar rumusan di atas, sejak penetapan tema kita sudah harus menentukan siapa yang menjadi protagonisnya. Tentusaja kita tidak hanya menetapkan tokoh protagonis saja, tetapi tokoh protagonis ini harus melakukan aksi (action). Setiap cerita film adalah tentang karakter (atau  beberapa karakter) yang melakukan suatu aksi (action).

Sebenarnya tidak menjadi masalah kita menemukan ide pokok lebih dahulu atau tema lebih dahulu. Tetapi hubungan antara ide pokok dan tema harus terlihat jernih. Tema harus mencerminkan Ide Pokok yang ingin disampaikan, misalnya:

Ide Pokok : Cinta tidak mengenal perbedaan status sosial.

Tema : Tentang seorang milyuner yang jatuh cinta pada pelacur.

Dari contoh tersebut, terlihat hubungan yang jelas antara ide pokok dan tema. Hubungan menjadi TIDAK JELAS jika misalnya dengan ide pokok yang sama dirumuskan tema “tentang seorang remaja yang jatuh cinta pada nenek-nenek”. Remaja jatuh cinta pada nenek-nenek tidak ada hubungannya dengan “perbedaan status sosial” tetapi mungkin rumusan ide pokoknya menjadi, “cinta tidak mengenal perbedaan usia”.

Sebagaimana yang telah diuraikan, tema dirumuskan dengan: “Tentang……… (protagonis) yang………. (action)”. Berdasarkan rumusan ini, kita mempunyai dua unsur penting dari tema, yaitu PROTAGONIS dan ACTION.

B. PROTAGONIS

Tokoh protagonis adalah tokoh yang sanggup menimbulkan PROSES IDENTIFIKASI pada penonton. Penonton menyamakan dirinya dengan tokoh protagonis sehingga penonton ikut merasakan suka dukanya. Proses identifikasi terjadi bila penonton SIMPATI pada tokoh protagonis. Penonton bersimpati pada protagonis bila tokoh protagonis melakukan suatu “KEBAIKAN”.

“KEBAIKAN” SIMPATI IDENTIFIKASI

“Kebaikan” dalam hal ini dituliskan dalam tanda kutip, karena yang dimaksud kebaikan ini relatif sifatnya. Tidak harus tokoh protagonis itu seorang alim ulama atau seorang pendeta, tapi bisa saja sosok penjahat kita jadikan sebagai protagonis. Caranya adalah dengan menutup-nutupi kejahatannya dan menonjolkan kebaikannya. Robin Hood adalah perampok, tetapi sebagai protagonis yang ditonjolkan dia merampok orang kaya untuk menolong orang-orang miskin. Atau sering kita melihat film tentang kehidupan narapidana. Yang namanya napi tentunya tokoh penjahat, tapi yang ditonjolkan misalnya rasa setia kawan atau kesediaan melindungi napi-napi yang lemah.

Mar
31

KARAKTERISTIK FILM

FILM, secara sederhana dapat didefinisikan sebagai: CERITA yang DITUTURKAN kepada PENONTON melalui RANGKAIAN GAMBAR BERGERAK.

Dari definisi tersebut, kita mendapatkan empat elemen penting, yang akan dibahas dalam diktat ini, yaitu:

1. CERITA

2. DITUTURKAN

3. PENONTON, dan

4. RANGKAIAN GAMBAR BERGERAK.

Cerita sebenarnya bisa dikisahkan melalui berbagai media, seperti novel, drama panggung, dan sebagainya. Menuturkan cerita melalui film tentusaja berbeda dengan apabila kita menuturkan cerita melalui novel misalnya. Oleh karena itu, pertama-tama kita harus memahami karakteristik film.

A. Film menggunakan UNSUR GAMBAR sebagai SARANA UTAMA untuk menyampaikan informasi.

Sebagaimana yang kita ketahui, dalam sejarahnya, film adalah kesinambungan dari fotografi. Pada mulanya film masih bisu, baru kemudian unsur suara melengkapi unsur gambar. Gambar  dan  suara, keduanya  secara  bersama-sama menceritakan cerita  pada  penonton. Keduanya mengandung  apa  yang dinamakan ekspresi. Kita melihat gambar dan mendengar suara. Bahwa film bisu mampu  bercerita tanpa unsur  suara  memberikan kepada  kita satu pengertian, gambar mencukupi untuk  mengisahkan cerita. Bertutur menggunakan media film adalah pertama-tama bertutur visual. Dengan demikian, apabila kita ingin menuturkan cerita melalui film, maka kita harus BERFIKIR VISUAL. Artinya, berfikir bagaimana suatu informasi akan disampaikan dalam bentuk GAMBAR.

Unsur SUARA (Dialog, Musik dan Efek) merupakan SARANA PENUNJANG. Unsur suara dipergunakan apabila:

1. Gambar sudah tidak sanggup menjelaskan.

2. Gambar tidak efektif dan efisien.

3. Suara digunakan untuk menunjang mood, suasana atau perasaan.

4. Suara digunakan sebagai kebutuhan realitas.

B. Film memiliki KETERBATASAN WAKTU.

Pengarang novel, misalnya, bisa menentukan sendiri kapan mengakhiri novelnya. Tetapi film memiliki panjang tertentu, antara 80 sampai 120 menit, atau bahkan bila kita menentukan waktu 3 jam sekali pun maka batasan waktu telah kita tetapkan. Ataukah film kita panjang atau pendek, kita tak mungkin berhenti sebelumnya  atau  belakangan. Kita tak mungkin  menambah panjang film untuk menyelesaikan cerita. Bagaimana pun, batasan waktu akan menentukan pilihan kita dalam memilih materi cerita, dan menghadapkan kita pada satu hal yang esensial, yaitu: ekonomis dalam bercerita atau efisiensi dalam bertutur.

Oleh karena itu, kita harus menyampaikan hanya informasi yang penting saja. Yang dimaksud INFORMASI PENTING adalah informasi yang mempunyai kepentingan:

1. Cerita

2. Artistik

3. Dramatik.

Berkaitan dengan hal ini, penonton akan selalu menganggap setiap informasi yang disampaikan PASTI PENTING. Konsekuensinya:

1. Informasi tidak penting tetap dianggap penting sehingga bisa membingungkan penonton.

2. Untuk kredibilitas suatu informasi kita bisa melakukan PENANAMAN INFORMASI (PLANTING OF INFORMATION), yaitu memberikan suatu informasi yang seolah-olah tidak ada hubungannya dengan suatu kejadian dan hasilnya dipetik belakangan. Dalam hal ini, setiap penanaman informasi (planting) harus selalu pada akhirnya diperlihatkan hasilnya, yang dikenal dengan istilah “Pay Off”. Saat planting, penonton dikondisikan untuk mengharapkan bahwa sesuatu akan terjadi, maka melalui “pay off” harapan ini harus dipenuhi.

C. Film MENGALIR DALAM WAKTU.

Pembaca novel, misalnya, jika lelah, bisa berhenti sebentar pada suatu halaman tertentu untuk istirahat dan meneruskan membacanya di lain waktu. Pembaca novel juga bisa mengulang membaca bagian-bagian tertentu yang mungkin sulit dipahaminya. Tetapi penonton film tidak bisa melakukan hal itu karena film mengalir dalam waktu. Penonton tidak bisa berhenti atau memutar ulang bagian-bagian tertentu dalam film untuk memahami bagian-bagian yang sulit dicerna.

Penonton melihat film terus berjalan dalam sekali duduk. Maka cerita haruslah diceritakan tanpa membuat mereka  merasa lelah, dan harus bisa diserap sepenuhnya. Dengan demikian, bila ada informasi yang dianggap perlu penekanan khusus atau dianggap sulit dipahami penonton, pembuat film yang harus melakukan pengulangan itu bagi penonton. Pengulangan dalam film bukanlah pengulangan biasa (REPETISI) tetapi pengulangan yang dinamakan DUPLIKASI, yaitu pengulangan dengan:

1. CARA BERBEDA, dan atau KWALITAS DRAMATIK MENINGKAT.

Mar
31

Kematian emang gak bisa di prediksi kedatangannya. Dalam dunia film pun demikian. Pernah gak ngebayangin, dalam sebuah produksi film layar lebar, aktor yang memerankan tokoh sentral dalam film tersebut meniggal secara tiba-tiba? Wah, gak kebayang gimana jadinya, yang pasti hal yang kayak gitu bakalan bikin pusing sutradara,penulis skenario ama produsernya. Berikut ulasan tentang salah satu film yang “apes” ngalamin hal tersebut pas proses produksi.
Proses pengambilan gambar film kolosal bersetingkan Romawi kuno garapan sutradara Ridley Scott yang berlokasikan di Malta hanya tersisa lima hari lagi saat Oliver Reed yang memerankan karakter Proximo ini meninggal secara tiba-tiba. Salah satu pemeran tokoh sentral dalam Gladiator yang berbujet US$ 100 juta ini menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam usia 61 tahun, saat sedang mengkonsumsi minuman beralkohol, di bar Valletta, saat sela-sela senggang jadwal syuting. Aktor yang sering berperan sebagai “tough guy” ini hamper saja menyelesaikan tugasnya sebagai Proximo; kakek tua beruban mantan gladiator yang melatih Maximus(Russel Crowe) tentang cara bertahan di dunia gladiator.
Dalam naskah aslinya, Proximo merupakan salah satu karakter yang akan bertahan hidup. Namun, setelah kematian Oliver yang mengejutkan, Scott memutuskan untuk merubah skenario yang ada dengan memberikan kisah kematian yang layak untuk dikenang. Lalu, bagaimanakah cara adegan-adegan yang menampilkan Proximo di selesaikan? Berdasarkan pernyataan penulis biografinya; Cliff Goodwin, dua adegan yang direkam sesaat sebelum Oliver meninggal di edit, dan kepala sang aktor ‘ditempelkan’ ke pemeran pengganti. Hal ini dilakukan dengan menggunakan CGI dan Hi-tech Imaging untuk merubah ekspresi wajah serta menambahkan efek bayangan dan keriput di wajah.
Sedangkan untuk beberapa adegan lainnya, gambar yang ditampilkan merupakan kopian dari adegan serupa dengan tambahan efek, seperti dalam adegan di menit 130 yang merupakan pengulangan dari adegan di menit 70. Perbedaan yang terjadi adalah perubahan pakaian yang dikenakan, latar belakang adegan, termasuk kata-kata yang diucapkan. Untuk adegan kematian Proximo, untuk sebuah alasan kebijaksanaan, direkam dari belakang aktor pemeran pengganti dengan tingkat kehati-hatian yang tinggi. Ketika akhirnya dirilis, film ini menyertakan sebuah dedikasi untuk Reed.

Disadur dari : Cinemags 2008

Mar
31

Didasari kisah nyata, Sydney Schanberg (Sam Waterson) adalah koresponden New York Times pada tahun 1970an meliput invasi Kamboja dengan bantuan Dith Pran, jurnalis dan penerjemah lokal. Atas liputannya Sydney dianugerahi Pulitzer.
Rupanya keadaan Kamboja semakin parah dan komunis Khmer Merah yang sadis menguasai Negara sebagai hasil dari perang dengan tentara Kamboja. Schanberg, jurnalis serta warga asing lainnya harus ditahan secara tidak resmi di gedung kedutaan Prancis. Setelah menyelamatkan Sydney dari tentara Khmer Merah, Sydney lalu menawarkan Dith jalan keluar dari Kamboja dengan membuatkan paspor palsu, tapi Dith memutuskan untuk tinggal sementara Sydney bias kabur. Sesudah kembali ke New York, tak ada kabar dari Dith sama sekali. Maka Sydney menulis 400 surat ke berbagai LSM yang terlibat di wilayah itu. Sementara itu Dith harus menderita di bawah rezim komunis yang kejam dan bertanggung jawab membunuh 1 juta orang, siksaan fisik dan batin membuatnya berpikir apakah ia bias bertemu anak istrinya?
John Malkovich sebagai Alan Rockoff mencuri perhatian, seorang fotografer sinis yang juga ingin turut membantu Dith kabur. Selain itu menderitanya rakyat Kamboja di bawah rezim komunis ditampilkan dengan realistis, membuat penonton miris, mengapa sebuah negeri indah bias hancur berantakan hanya oleh sebuah ideologi usang.

Disadur dari : Cinemags 2008

Mar
31

Belum lama ini gw nonton dvd film Korea berjudul “The Bow”. Film produksi Korea yang di sutradarai oleh Kim Ki-duk ini bercerita tentang seorang Pria paruh baya yang tinggal di atas sebuah perahu bersama seorang gadis yang telah di asuhnya semenjak si gadis berusia 7 tahun. Gadis ini sudah dianggap seperti anaknya sendiri, ironisnya, si pria membuat suatu sumpah bahwa ia akan menikahi si gadis ini ketika kelak ia berusia 17 tahun. Selama hidupnya, si gadis tidak pernah meninggalkan perhau tempat ia tinggal dan dibesarkan, sehingga ia tidak tahu tentang dunia luar. Perahu tempat mereka tinggal disewakan sebagai tempat pemancingan di tengah laut bagi para pemancing. tahun-tahun berlalu, tibalah saatnya si pria menikahi gadis tersebut karena ia genap berusia 17 tahun. namun, tidak seperti yang diharapkan, suatu hari datang seorang pemuda dari kota yang hendak memancing, ia pun jatuh cinta terhadap gadis tersebut, begitupun sebaliknya, si gadis juga menyukai pemuda tersebut. Singkat cerita, si pemuda pun berhasil membongkar masa lalu si pria paruh baya dengan anak gadisnya tersebut. Ternyata, gadis tersebut bukanlah anaknya, 10 tahun silam si pria menculik gadis tersebut ketika masih berusia 7 tahun, ia membawanya ke perahunya tersebut dan tak pernah kembali ke daratan. Bagaimanakah nasib si gadis? apakah ia akan kembali ke pelukan orangtuanya? Gw rasa, lo semua harus nonton sendiri film ini, karena endingnya sendiri gak bisa di tebak. kalo gw kasih tau jadi gak surprise lagi.

Film ini merupakan film drama produksi Korea dengan sutradara Kim Ki-Duk. Sekedar informasi, Kim-Ki-Duk adalah seorang sutradara sekaligus penulis skenario yang cukup “edan” di Korea. Setiap film-filmya sangat fresh dibandingkan film Korea yang lain, Ki-duk selalu mengeksporasi keindahan dan keunikan wanita dalam setiap filmnya. Emang sih, filmnya bukan untuk  konsumsi anak-anak, karena unsur seks masih selalu ada dalam cerita yang di bikin mas Ki-Duk. Buat gw pribadi, ni film pantes di acungi 4 jempol! soalnya, sepanjang film nyaris gak ada dialognya! udah gitu setting lokasinya cuma di atas perahu dan ditengah laut pula. Edan kan? Buat yang udah nonton film ini, gw saranin untuk nonton film Kim Ki-Duk lainnya kayak Beautiful, 3 Iron, The Isle. Untuk Beautiful, Ki-Duk sebagai penulis skenarionya. Nanti akan gw bahas mengenai film Beautiful ini. Ok, selamat menonton deh!

Mar
26

Blog ini berisi semua informasi tentang film-film dunia.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.