Sinema Dunia
Just another WordPress.com weblog

Belajar Menulis Skenario Film Part 1

KARAKTERISTIK FILM

FILM, secara sederhana dapat didefinisikan sebagai: CERITA yang DITUTURKAN kepada PENONTON melalui RANGKAIAN GAMBAR BERGERAK.

Dari definisi tersebut, kita mendapatkan empat elemen penting, yang akan dibahas dalam diktat ini, yaitu:

1. CERITA

2. DITUTURKAN

3. PENONTON, dan

4. RANGKAIAN GAMBAR BERGERAK.

Cerita sebenarnya bisa dikisahkan melalui berbagai media, seperti novel, drama panggung, dan sebagainya. Menuturkan cerita melalui film tentusaja berbeda dengan apabila kita menuturkan cerita melalui novel misalnya. Oleh karena itu, pertama-tama kita harus memahami karakteristik film.

A. Film menggunakan UNSUR GAMBAR sebagai SARANA UTAMA untuk menyampaikan informasi.

Sebagaimana yang kita ketahui, dalam sejarahnya, film adalah kesinambungan dari fotografi. Pada mulanya film masih bisu, baru kemudian unsur suara melengkapi unsur gambar. Gambar  dan  suara, keduanya  secara  bersama-sama menceritakan cerita  pada  penonton. Keduanya mengandung  apa  yang dinamakan ekspresi. Kita melihat gambar dan mendengar suara. Bahwa film bisu mampu  bercerita tanpa unsur  suara  memberikan kepada  kita satu pengertian, gambar mencukupi untuk  mengisahkan cerita. Bertutur menggunakan media film adalah pertama-tama bertutur visual. Dengan demikian, apabila kita ingin menuturkan cerita melalui film, maka kita harus BERFIKIR VISUAL. Artinya, berfikir bagaimana suatu informasi akan disampaikan dalam bentuk GAMBAR.

Unsur SUARA (Dialog, Musik dan Efek) merupakan SARANA PENUNJANG. Unsur suara dipergunakan apabila:

1. Gambar sudah tidak sanggup menjelaskan.

2. Gambar tidak efektif dan efisien.

3. Suara digunakan untuk menunjang mood, suasana atau perasaan.

4. Suara digunakan sebagai kebutuhan realitas.

B. Film memiliki KETERBATASAN WAKTU.

Pengarang novel, misalnya, bisa menentukan sendiri kapan mengakhiri novelnya. Tetapi film memiliki panjang tertentu, antara 80 sampai 120 menit, atau bahkan bila kita menentukan waktu 3 jam sekali pun maka batasan waktu telah kita tetapkan. Ataukah film kita panjang atau pendek, kita tak mungkin berhenti sebelumnya  atau  belakangan. Kita tak mungkin  menambah panjang film untuk menyelesaikan cerita. Bagaimana pun, batasan waktu akan menentukan pilihan kita dalam memilih materi cerita, dan menghadapkan kita pada satu hal yang esensial, yaitu: ekonomis dalam bercerita atau efisiensi dalam bertutur.

Oleh karena itu, kita harus menyampaikan hanya informasi yang penting saja. Yang dimaksud INFORMASI PENTING adalah informasi yang mempunyai kepentingan:

1. Cerita

2. Artistik

3. Dramatik.

Berkaitan dengan hal ini, penonton akan selalu menganggap setiap informasi yang disampaikan PASTI PENTING. Konsekuensinya:

1. Informasi tidak penting tetap dianggap penting sehingga bisa membingungkan penonton.

2. Untuk kredibilitas suatu informasi kita bisa melakukan PENANAMAN INFORMASI (PLANTING OF INFORMATION), yaitu memberikan suatu informasi yang seolah-olah tidak ada hubungannya dengan suatu kejadian dan hasilnya dipetik belakangan. Dalam hal ini, setiap penanaman informasi (planting) harus selalu pada akhirnya diperlihatkan hasilnya, yang dikenal dengan istilah “Pay Off”. Saat planting, penonton dikondisikan untuk mengharapkan bahwa sesuatu akan terjadi, maka melalui “pay off” harapan ini harus dipenuhi.

C. Film MENGALIR DALAM WAKTU.

Pembaca novel, misalnya, jika lelah, bisa berhenti sebentar pada suatu halaman tertentu untuk istirahat dan meneruskan membacanya di lain waktu. Pembaca novel juga bisa mengulang membaca bagian-bagian tertentu yang mungkin sulit dipahaminya. Tetapi penonton film tidak bisa melakukan hal itu karena film mengalir dalam waktu. Penonton tidak bisa berhenti atau memutar ulang bagian-bagian tertentu dalam film untuk memahami bagian-bagian yang sulit dicerna.

Penonton melihat film terus berjalan dalam sekali duduk. Maka cerita haruslah diceritakan tanpa membuat mereka  merasa lelah, dan harus bisa diserap sepenuhnya. Dengan demikian, bila ada informasi yang dianggap perlu penekanan khusus atau dianggap sulit dipahami penonton, pembuat film yang harus melakukan pengulangan itu bagi penonton. Pengulangan dalam film bukanlah pengulangan biasa (REPETISI) tetapi pengulangan yang dinamakan DUPLIKASI, yaitu pengulangan dengan:

1. CARA BERBEDA, dan atau KWALITAS DRAMATIK MENINGKAT.

One Response to “Belajar Menulis Skenario Film Part 1”

  1. Thx mr.ragil buat ilmu skenarionya, berguna bgt buat aku. aku pengen banget jadi penulis skenario, jangan-jangan mr.ragil scriptwriter beneran ya?? wah asyiikk! di tunggu ya artikel “Belajar menulis skenario film” yang bagian selanjutnya!

    ^_^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: